Tafsir Taha Ayat 97

Tafsir Kementerian Agama RI (QS. Taha:97)

Musa berkata kepada Samiri pergilah engkau jauh-jauh dari sini, engkau tidak berhak bergaul dengan siapapun dan tak ada seorang pun yang dibolehkan bergaul dengan engkau. Bila ada orang yang bertanya kepadamu mengenai halmu maka engkau harus menjawab "Aku tidak dibolehkan mendekat seseorang dan siapapun tidak boleh mendekatiku." Inilah tindakan Musa yang amat keras dan tegas terhadapnya. Ke mana Samiri akan pergi, tak ada tempat yang akan didiami karena sekeliling tempat itu hanya ada padang pasir yang amat luas dan tandus, tak ada sebidang tanah pun di gurun sahara itu yang dapat didiami manusia. Sedang binatang liar dan buas pun akan merasa sulit dan akan menderita tinggal di padang pasir yang tak bertepi itu. Diriwayatkan bahwa Samiri setelah diusir oleh Musa, dia pergi dari tempat itu tanpa diketahuinya ke mana arah dan tujuan yang akan dicapainya. Dia berpetualang di gurun sahara yang amat luas itu dan tidak ada yang dijumpainya kecuali binatang-binatang buas dan liar. Maka terbuktilah apa yang dikatakan Musa kepadanya bila ia bertemu dengan seseorang menanyakan halnya dia harus menjawab "La misasa".

Biarpun dia tidak pernah mengucapkan kata "La misasa" itu tetapi dalam praktek pengalamannya bertualang di padang pasir seakan-akan dia sendiri meneriakkan kata itu sehingga tak ada seorang pun yang berani mendekat kepadanya. Kemudian Musa mengucapkan kata-kata perpisahan kepadanya bahwa dia akan menemui hari yang tidak dapat dihindarinya yaitu hari kiamat, hari pembalasan di mana dia akan menerima balasan amal perbuatannya setimpal dengan besar dosa yang diperbuatnya. Kemudian Musa memerintahkan kepada Samiri supaya dia menoleh kepada tuhan buatannya yang disembah dan dipujanya dan berkata, "Patung ini akan aku hancur leburkan sampai menjadi debu dan debunya akan aku sebarkan ke laut sehingga hilang lenyap tidak berbekas."

Tafsir Jalalain (Indonesia)

(Berkata Musa) kepada Samiri, ("Pergilah kamu) dari kalangan kami ini (maka sesungguhnya bagimu di dalam kehidupan di dunia ini) selama kamu hidup di dalamnya (hanya dapat mengatakan) kepada orang-orang yang kamu bertemu dengannya, ('Janganlah menyentuhku') janganlah kamu mendekat kepadaku. Dan disebutkan bahwa sejak saat itu Samiri mengembara tanpa tujuan dan jika ada seseorang menyentuhnya atau dia menyentuhnya, maka semuanya kena penyakit demam. (Dan sesungguhnya bagimu telah ada ketentuan waktu) bagi hukumanmu (yang kamu sekali-kali tidak dapat menghindarinya) jika dibaca Lan tukhlifahu artinya, kamu tidak dapat selamat dari azab itu. Dan jika dibaca Lan Tukhlafahu artinya, kamu dibangkitkan kelak di hari kiamat untuk diazab (dan lihatlah tuhanmu itu yang kamu tetap) lafal Zhalta asalnya dibaca Zhalilta, kemudian Lam yang pertama dibuang sehingga jadilah Zhalta artinya yang kamu selamanya (menyembah kepadanya) tetap menyembahnya. (Sesungguhnya kami akan membakarnya) dengan api (kemudian kami sungguh-sungguh akan menghambur-hamburkannya ke dalam laut) berupa abu yang berserakan terbawa oleh angin laut. Dan Nabi Musa mengerjakan apa yang telah dikatakannya itu setelah terlebih dahulu menyembelihnya.

Tafsir Quraish Shihab dkk

Mûsâ berkata lagi, "Keluarlah kamu dari kelompok kami dan jauhilah kami! Kau akan mendapat balasan di dunia sebagai orang terhina dan dijauhi manusia. Dengan begitu, tak ada hubungan lagi antara kamu dengan mereka. Tidak ada seorang pun akan mendekatimu dan kau un tidak dapat mendekati seseorang. Lebih dari itu, siksaanmu di akhirat sudah pula ditentukan. Dan kamu tidak akan dapat menghindarinya." Mûsâ kemudian mencemooh Sâmiriy dan tuhanya seraya berkata, "Lihatlah sekarang apa yang akan kami perbuat terhadap tuhan yang kamu sembah dan kamu jadikan alat untuk menggoda manusia. Kami akan membakar dan menghamburkannya ke laut."

Informasi Surat

Nama Surat:

Taha (طٰهٰ)

Arti:

Taha

Tempat Turun:

Mekah

Jumlah Ayat:

135 Ayat

Deskripsi:

Surat Thaahaa terdiri atas 135 ayat, diturunkan sesudah diturunkannya surat Maryam, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah. Surat ini dinamai <i>Thaahaa</i>, diambil dari perkataan yang berasal dan ayat pertama surat ini. Sebagaimana yang lazim terdapat pada surat-surat yang memakai huruf-huruf abjad pada permulaannya, di mana huruf tersebut seakan-akan merupakan pemberitahuan Allah kepada orang-orang yang membacanya, bahwa sesudah huruf itu akan dikemukakan hal-hal yang sangat penting diketahui, maka demikian pula halnya dengan ayat-ayat yang terdapat sesudah huruf <i>thaahaa</i> dalam surat ini. Allah menerangkan bahwa Al Quran merupakan peringatan bagi manusia, wahyu dari Allah, Pencipta semesta alam. Kemudian Allah menerangkan kisah beberapa orang nabi; akibat-akibat yang telah ada akan dialami oleh orang-orang yang percaya kepada Allah dan orang-orang yang mengingkari-Nya, baik di dunia maupun di akhirat. Selain hal-hal tersebut di atas, maka surat ini mengandung pokok-pokok isi sebagai berikut: