Tafsir Asy-Syu'ara' Ayat 72

Tafsir Kementerian Agama RI (QS. Asy-Syu'ara':72)

Mendengar keterangan itu, bertambah yakinlah Ibrahim bahwa kepercayaan tersebut bukanlah berdasarkan alasan yang masuk akal. Mulailah beliau berpikir bagaimana caranya untuk meluruskan kembali jalan pikiran kaumnya yang telah sesat itu. Tugas beliau yang utama ialah mengembalikan mereka kepada ajaran tauhid.

Ibrahim bertanya lagi, apakah berhala-berhala tersebut dapat mendengar permohonan yang diucapkan mereka. Hal demikian beliau persoalkan untuk menguji sampai di manakah logika mereka dapat dipergunakan untuk memahami ucapan dan perbuatan dalam bentuk doa-doa kepada berhala tersebut. Sebab andaikata yang disembah itu saja tidak mendengar, bagaimana pula ia bisa mengabulkan permohonan yang diajukan kepadanya. Tegasnya bagaimana mungkin dipahami dengan benar hakikat peribadatan seperti itu kalau otak mereka tidak bisa mencerna dengan baik tujuan penyembahan terhadap berhala-berhala itu.

Tafsir Jalalain (Indonesia)

(Berkata Ibrahim, "Apakah berhala-berhala itu mendengar seruan kalian di waktu) ketika (kalian berdoa kepadanya?).

Tafsir Quraish Shihab dkk

Untuk mengingatkan kerancuan berpikir mereka, Ibrâhîm bertanya, "Adakah berhala-berhala itu dapat mendengarkan dan mengabulkan doa-doa kalian?"

Informasi Surat

Nama Surat:

Asy-Syu'ara' (الشعراۤء)

Arti:

Para Penyair

Tempat Turun:

Mekah

Jumlah Ayat:

227 Ayat

Deskripsi:

Surat ini terdiri dari 227 ayat termasuk golongan surat-surat Makkiyyah. Dinamakan <i>Asy Syu'araa'</i> (kata jamak dari <i>Asy Syaa'ir</i> yang berarti penyair) diambil dari kata <i>Asy Syuaraa'</i> yang terdapat pada ayat 224, yaitu pada bagian terakhir surat ini, di kala Allah s.w.t. secara khusus menyebutkan kedudukan penyair- penyair. Para penyair-penyair itu mempunyai sifat-sifat yang jauh berbeda dengan para rasul-rasul; mereka diikuti oleh orang-orang yang sesat dan mereka suka memutar balikkan lidah dan mereka tidak mempunyai pendirian, perbuatan mereka tidak sesuai dengan tidak mempunyai pendirian, perbuatan mereka tidak sesuai dengan apa yang mereka ucapkan. Sifat-sifat yang demikian tidaklah sekali-kali terdapat pada rasul-rasul. Oleh karena demikian tidak patut bila Nabi Muhammad s.a.w. dituduh sebagai penyair, dan Al Quran dituduh sebagai syair, Al Quran adalah wahyu Allah, bukan buatan manusia.