Tafsir Asy-Syu'ara' Ayat 50

Tafsir Kementerian Agama RI (QS. Asy-Syu'ara':50)

Ancaman Fir'aun yang cukup berat itu, tidak digubris sama sekali oleh para ahli sihir itu. Mereka bahkan berharap dapat merasakan ancaman itu karena bagi mereka semua orang yang hidup pada suatu waktu pasti mati, tidak ada daya upaya untuk mengelak daripadanya. Firman Allah:

Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. (al-Anbiya'/21: 35)

Dan firman-Nya:

Katakanlah, "Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu," (al-Jumu'ah/62: 8)

Mereka itu hanya memikirkan dua hal, sebagai penghibur hati mereka:

Pertama, mereka akan kembali kepada ajaran Tuhan semesta alam, Tuhan yang disembah Musa dan Harun dan mengikuti agama Nabi Musa a.s. Dengan demikian, mereka akan selamat dari azab akhirat yang amat pedih dan berkepanjangan, yang jauh lebih berat dibanding dengan siksaan yang diancamkan Fir'aun kepada mereka.

Kedua, mereka sangat mengharapkan agar Tuhan semesta alam mau mengampuni dosa mereka karena melakukan perbuatan sihir dan kekafiran. Merekalah yang pertama kali beriman kepada Tuhan yang disembah Musa, dari sekian banyak orang yang turut menyaksikan adu kekuatan itu.

Tafsir Jalalain (Indonesia)

(Mereka berkata, "Tidak ada kemudaratan) tidak mengapa bagi kami jika hal tersebut ditimpakan kepada kami (sesungguhnya kami kepada Rabb kami) sesudah kami mati dengan cara apa pun (akan kembali) yakni kembali kepada-Nya di akhirat nanti.

Tafsir Quraish Shihab dkk

Para ahli sihir berkata, "Siksaan yang akan kamu lakukan kepada kami, sebagaimana ancamanmu, tidak akan membahayakan kami. Sebab, kami akan kembali kepada Tuhan untuk mendapatkan ganjaran-Nya, suatu ganjaran dan akhir yang baik.

Informasi Surat

Nama Surat:

Asy-Syu'ara' (الشعراۤء)

Arti:

Para Penyair

Tempat Turun:

Mekah

Jumlah Ayat:

227 Ayat

Deskripsi:

Surat ini terdiri dari 227 ayat termasuk golongan surat-surat Makkiyyah. Dinamakan <i>Asy Syu'araa'</i> (kata jamak dari <i>Asy Syaa'ir</i> yang berarti penyair) diambil dari kata <i>Asy Syuaraa'</i> yang terdapat pada ayat 224, yaitu pada bagian terakhir surat ini, di kala Allah s.w.t. secara khusus menyebutkan kedudukan penyair- penyair. Para penyair-penyair itu mempunyai sifat-sifat yang jauh berbeda dengan para rasul-rasul; mereka diikuti oleh orang-orang yang sesat dan mereka suka memutar balikkan lidah dan mereka tidak mempunyai pendirian, perbuatan mereka tidak sesuai dengan tidak mempunyai pendirian, perbuatan mereka tidak sesuai dengan apa yang mereka ucapkan. Sifat-sifat yang demikian tidaklah sekali-kali terdapat pada rasul-rasul. Oleh karena demikian tidak patut bila Nabi Muhammad s.a.w. dituduh sebagai penyair, dan Al Quran dituduh sebagai syair, Al Quran adalah wahyu Allah, bukan buatan manusia.