Tafsir An-Nahl Ayat 33

Tafsir Kementerian Agama RI (QS. An-Nahl:33)

Allah swt menjelaskan bahwa tidak ada gunanya memberikan kesempatan kepada orang-orang musyrik Mekah untuk mengubah sikap mereka. Mereka tetap akan berpendirian demikian, sehingga tiba saatnya malaikat merenggut nyawa mereka, atau datang perintah Tuhan untuk menurunkan azab kepada mereka di dunia seperti dialami orang-orang kafir sebelum mereka.

Di antara orang-orang musyrik yang tidak menaati nabi dan rasul ada yang dibinasakan oleh suara petir, dihancurkan oleh gempa bumi, dan ada pula yang diluluhlantakkan oleh banjir besar dan angin topan tanpa mereka duga kedatangannya. Ayat ini merupakan ancaman keras kepada mereka dengan maksud agar mereka beriman kepada Allah dan rasul-Nya serta segera meninggalkan kebatilan dan kembali kepada kebenaran sebelum datang malapetaka seperti yang pernah menimpa orang-orang sebelum mereka.

Kemudian Allah swt menjelaskan bahwa nenek moyang mereka yang mempunyai sifat dan perilaku yang sama dengan mereka telah mengalami kehancuran lebih dulu karena azab Allah akibat tidak mau mendengarkan seruan para rasul dan nabi Allah yang membimbing mereka kepada ke-benaran. Mereka yang tetap bergelimang dalam kebatilan telah dimusnahkan oleh Allah dengan siksaan yang berat. Hal ini bukan berarti Allah telah menganiaya mereka, akan tetapi mereka sendiri yang menganiaya diri sendiri. Allah telah cukup memberikan bimbingan wahyu dan bukti-bukti yang jelas tentang kebenaran wahyu itu. Akan tetapi, mereka tetap saja membangkang dan mendustakan kebenaran dan mengotori jiwa mereka dengan menciptakan patung-patung sebagai tuhan-tuhan yang dipersekutu-kan kepada Allah.

Tafsir Jalalain (Indonesia)

(Tidak ada) tiada (yang ditunggu-tunggu) oleh orang-orang kafir (selain datang kepada mereka) dapat dibaca ta'tiyahum atau ya'tiyahum (para malaikat) untuk mencabut nyawa mereka (atau datangnya perintah Rabbmu) yakni azab atau hari kiamat yang terdapat di dalamnya azab buat mereka. (Demikianlah) seperti apa yang telah dilakukan oleh mereka (telah dilakukan pula oleh orang-orang sebelum mereka) daripada umat-umat terdahulu yang mendustakan rasul-rasul mereka kemudian mereka dibinasakan. (Dan sekali-kali Allah tidak menganiaya mereka) dengan membinasakan mereka tanpa dosa (akan tetapi merekalah yang selalu menganiaya diri mereka sendiri) karena melakukan kekafiran.

Tafsir Quraish Shihab dkk

Mereka itu adalah orang-orang bertakwa yang telah mempersiapkan diri untuk menghadapi akhirat. Itulah balasan mereka. Adapun orang-orang musyrik, karena sikap membangkang dan mempertahankan kemusyrikan, mereka tiada lain hanya menunggu kedatangan malaikat yang akan mencabut nyawa mereka dalam keadaan menzalimi diri sendiri dengan perbuatan syirik dan jahat. Setelah itu datang kepada mereka siksaan Tuhanmu yang menghancurkan mereka semua. Perbuatan para pembangkang itu sama dengan yang pernah dilakukan oleh orang-orang sebelum mereka terhadap para nabinya. Maka Allah memberikan hukuman kepada mereka karena perbuatan itu. Allah tidak bersikap zalim saat memberikan hukuman kepada mereka. Akan tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri, karena mereka sendiri yang menjerumuskan diri ke dalam siksa Allah dengan berbuat ingkar.

Informasi Surat

Nama Surat:

An-Nahl (النحل)

Arti:

Lebah

Tempat Turun:

Mekah

Jumlah Ayat:

128 Ayat

Deskripsi:

Surat ini terdiri atas 128 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah. Surat ini dinamakan <i>An Nahl</i> yang berarti <i>lebah</i> karena di dalamnya, terdapat firman Allah s.w.t. ayat 68 yang artinya : "Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah." Lebah adalah makhluk Allah yang banyak memberi manfaat dan kenikmatan kepada manusia. Ada persamaan antara madu yang dihasilkan oleh lebah dengan Al Quranul Karim. Madu berasal dari bermacam-macam sari bunga dan dia menjadi obat bagi bermacam-macam penyakit manusia (lihat ayat 69). Sedang Al Quran mengandung inti sari dari kitab-kitab yang telah diturunkan kepada Nabi-nabi zaman dahulu ditambah dengan ajaran-ajaran yang diperlukan oleh semua bangsa sepanjang masa untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. (Lihat surat (10) Yunus ayat 57 dan surat (17) Al Isra' ayat 82). Surat ini dinamakan pula "An Ni'am" artinya nikmat-nikmat, karena di dalamnya Allah menyebutkan pelbagai macam nikmat untuk hamba-hamba-Nya.