Tafsir Asy-Syu'ara' Ayat 25

Tafsir Kementerian Agama RI (QS. Asy-Syu'ara':25)

Pada ayat ini dijelaskan tentang reaksi Fir'aun atas jawaban Musa di atas. Setelah mendengar jawaban Musa, ia cepat-cepat menoleh kepada kaumnya yang ada di sekelilingnya, dan menampakkan keheranannya. Fir'aun berkata kepada mereka dengan nada menyindir dan mengejek, "Wahai kaumku, kamu sekalian telah mendengar ucapan-ucapan Musa yang mengatakan bahwa ada Tuhan selain aku? Apakah itu bukan suatu hal yang aneh dan suatu hal yang merupakan penyelewengan?" Hal ini dilakukan oleh Fir'aun karena ia khawatir kalau-kalau kaumnya terpengaruh oleh jawaban Musa. Kalau begitu, mereka akan berbalik tidak mempercayai dan mengakuinya lagi sebagai Tuhan.

Tafsir Jalalain (Indonesia)

(Berkata) Firaun (kepada orang-orang sekelilingnya,) dari kalangan orang-orang terpandang kaumnya ("Apakah kaian tidak mendengarkan?") jawabannya yang tidak sesuai dengan pertanyaannya itu.

Tafsir Quraish Shihab dkk

Fir'aun merasa heran mendengar adanya Tuhan selain dirinya dan bahwa kerajaannya tidak pantas dibandingkan dengan kerajaan Tuhan. Dengan sikap meremehkan, Fir'aun mengungkapkan keheranannya kepada orang-orang yang ada di sekitarnya, "Bagaimana tanggapan kalian mendengar ucapan Mûsâ ini?"

Informasi Surat

Nama Surat:

Asy-Syu'ara' (الشعراۤء)

Arti:

Para Penyair

Tempat Turun:

Mekah

Jumlah Ayat:

227 Ayat

Deskripsi:

Surat ini terdiri dari 227 ayat termasuk golongan surat-surat Makkiyyah. Dinamakan <i>Asy Syu'araa'</i> (kata jamak dari <i>Asy Syaa'ir</i> yang berarti penyair) diambil dari kata <i>Asy Syuaraa'</i> yang terdapat pada ayat 224, yaitu pada bagian terakhir surat ini, di kala Allah s.w.t. secara khusus menyebutkan kedudukan penyair- penyair. Para penyair-penyair itu mempunyai sifat-sifat yang jauh berbeda dengan para rasul-rasul; mereka diikuti oleh orang-orang yang sesat dan mereka suka memutar balikkan lidah dan mereka tidak mempunyai pendirian, perbuatan mereka tidak sesuai dengan tidak mempunyai pendirian, perbuatan mereka tidak sesuai dengan apa yang mereka ucapkan. Sifat-sifat yang demikian tidaklah sekali-kali terdapat pada rasul-rasul. Oleh karena demikian tidak patut bila Nabi Muhammad s.a.w. dituduh sebagai penyair, dan Al Quran dituduh sebagai syair, Al Quran adalah wahyu Allah, bukan buatan manusia.