Tafsir Ibrahim Ayat 16

Tafsir Kementerian Agama RI (QS. Ibrahim:16)

Pada ayat ini ditegaskan bahwa orang-orang yang menolak kebenaran dengan mengingkari rasul yang diutus Allah kepada mereka, bahkan berani mengancam akan mengusirnya, adalah orang-orang yang ingin menandingi kekuasaan dan kebesaran Allah. Mereka bersifat keras kepala, takabur, dan berbuat sewenang-wenang. Mereka telah berada di depan neraka Jahanam, bahkan dalam kehidupan di dunia, mereka telah merasa seperti di tepi neraka, selalu gelisah, khawatir, dan penuh keraguan. Di akhirat nanti, mereka akan dimasukkan ke dalam neraka dan diberi minuman dari air kotor seperti nanah. Hal ini merupakan hukuman bagi mereka yang tidak mempedulikan hukum dan petunjuk yang diberikan Allah kepada hamba-hamba-Nya.

Tafsir Jalalain (Indonesia)

(Di hadapannya) di depannya (ada Jahanam) yang akan dimasukinya (dan dia akan diberi minum) di dalam Jahanam itu (dengan air nanah) yaitu cairan yang meleleh dari perut ahli neraka bercampur dengan nanah dan darah.

Tafsir Quraish Shihab dkk

Di dunia ia mendapatkan kekalahan, dan di akhirat kelak akan mendapatkan siksa di neraka Jahanam. Di sana ia akan diberi minum dengan air yang menjijikkan: air mirip nanah yang mengalir dari tubuh penghuni neraka.

Informasi Surat

Nama Surat:

Ibrahim (ابرٰهيم)

Arti:

Ibrahim

Tempat Turun:

Mekah

Jumlah Ayat:

52 Ayat

Deskripsi:

Surat Ibrahim ini terdiri atas 52 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah karena diturunkan di Mekah sebelum Hijrah. Dinamakan <i>Ibrahim</i>, karena surat ini mengandung doa Nabi Ibrahim a.s. yaitu ayat 35 sampai dengan 41. Do'a ini isinya antara lain: permohonan agar keturunannya mendirikan shalat, dijauhkan dari menyembah berhala-berhala dan agar Mekah dan daerah sekitarnya menjadi daerah yang aman dan makmur. Doa Nabi Ibrahim a.s. ini telah diperkenankan oleh Allah s.w.t. sebagaimana telah terbukti keamanannya sejak dahulu sampai sekarang. Do'a tersebut dipanjatkan beliau ke hadirat Allah s.w.t. sesudah selesai membina Ka'bah bersama puteranya Ismail a.s., di dataran tanah Mekah yang tandus.