Tafsir Al-Isra' Ayat 101

Tafsir Kementerian Agama RI (QS. Al-Isra':101)

Ayat ini menerangkan bahwa Allah swt telah memberikan sembilan macam mukjizat kepada Musa a.s. sebagai bukti kerasulannya, ketika diutus kepada Fir'aun dan kaumnya. Namun demikian, Fir'aun dan kaumnya tetap menolak seruan Nabi Musa untuk beriman pada Allah Sang Pencipta. Dalam ayat yang lain diterangkan bagaimana Fir'aun dan kaumnya mengingkari seruan Musa.

Allah swt berfirman:

Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongannya, padahal hati mereka meyakini (kebenaran)-nya. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan. (an-Naml/27: 14)

Para mufasir berbeda pendapat tentang maksud dari sembilan ayat tersebut di atas. Menurut Ibnu Abbas, sebagaimana diriwayatkan oleh 'Abd Razzaq, Sa'id bin Manshur, Ibnu Jarir ath-thabari, dan Ibnu Mundzir, bahwa sembilan ayat tersebut adalah tongkat, tangan, topan, belalang, kutu, katak, darah, musim kemarau, dan kekurangan buah-buahan. Pendapat ini disetujui oleh jumhur ulama.

Mufasir yang lain, seperti ar-Razi, berpendapat bahwa yang dimaksud dengan sembilan ayat tersebut di atas adalah berbagai larangan. Ia mendasar-kan pendapatnya dengan hadis Nabi saw yang diriwayatkan oleh Ahmad, at-Tirmidzi, al-Baihaqi, Ath-thabrani, an-Nasa'i, dan Ibnu Majah dari shafwan bin Asal al-Muradi, ketika beliau ditanya oleh orang Yahudi, bahwa yang dimaksud dengan sembilan ayat di sini ialah sembilan macam larangan, yaitu: jangan mempersekutukan Allah, jangan membunuh jiwa kecuali dengan hak, jangan berzina, jangan mencuri, jangan menyihir, jangan makan riba, jangan memfitnah orang yang tidak bersalah kepada penguasa, jangan menuduh wanita yang baik berzina, dan melanggar aturan pada hari Sabat. Ibnu Syihab Al-Khafaji mengatakan, "Inilah tafsir yang diikuti dalam menafsirkan ayat ini."

Allah memerintahkan Nabi Muhammad saw agar menanyakan tentang kisah Musa kepada orang-orang Yahudi yang hidup di masanya, seperti Abdullah bin Salam dan lain-lain, niscaya mereka akan membenarkannya. Pengakuan mereka terhadap kebenaran risalah Nabi Musa akan menambah iman dan keyakinannya. Hal itu juga bertujuan agar Nabi saw yakin bahwa kisah itu juga terdapat dalam kitab mereka.

Tanyakanlah kepada orang-orang Yahudi, tentu mereka akan menerangkan bahwa Musa a.s. telah datang kepada Fir'aun membawa agama tauhid dan mengemukakan berbagai mukjizatnya. Akan tetapi, Fir'aun mengingkarinya, bahkan mengatakan bahwa Musa adalah orang yang rusak akalnya, sehingga mengaku-ngaku sebagai seorang rasul Allah.

Tafsir Jalalain (Indonesia)

(Dan sesungguhnya Kami telah memberikan kepada Musa sembilan buah mukjizat yang nyata) yaitu tangan, tongkat, topan, belalang, kutu, kodok, darah atau kutukan paceklik dan kekurangan buah-buahan (maka tanyakanlah) hai Muhammad (kepada Bani Israel) perihalnya dengan pertanyaan yang menetapkan kebenaranmu terhadap kaum musyrikin; atau artinya Kami berfirman kepada Muhammad, "Tanyakanlah." Menurut qiraat yang lain diungkapkan dalam bentuk fi`il madhi (tatkala Musa datang kepada mereka lalu Firaun berkata kepadanya, "Sesungguhnya aku sangka kamu hai Musa seorang yang kena sihir.") orang yang tidak sadar dan akal warasmu sudah hilang.

Tafsir Quraish Shihab dkk

Seandainya kepada mereka didatangkan ayat-ayat yang telah mereka minta, mereka pasti akan berpaling dan tidak akan mempercayainya. Kami telah memberi Mûsâ sembilan mukjizat yang nyata(1). Meskipun demikian, mereka mengingkarinya. Dan Fir'aun berkata kepada Mûsâ, "Kukira kau adalah orang yang terkena sihir, Mûsâ." (1) Sembilan mukjizat itu adalah tongkat, tangan putih, angin topan, belalang dan katak serta darah, kekeringan dan kekurangan buah-buahan, terbelahnya laut, air yang memancar dari batu, terangkatnya gunung, dan berbicara langsung dengan Allah.

Informasi Surat

Nama Surat:

Al-Isra' (الاسراۤء)

Arti:

Memperjalankan Malam Hari

Tempat Turun:

Mekah

Jumlah Ayat:

111 Ayat

Deskripsi:

Surat ini terdiri atas 111 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah. Dinamakan dengan <i>Al Israa'</i> yang berarti <i>memperjalankan di malam hari</i>, berhubung peristiwa Israa' Nabi Muhammad s.a.w. di Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsha di Baitul Maqdis dicantumkan pada ayat pertama dalam surat ini. Penuturan cerita Israa' pada permulaan surat ini, mengandung isyarat bahwa Nabi Muhammad s.a.w. beserta umatnya kemudian hari akan mencapai martabat yang tinggi dan akan menjadi umat yang besar.<br> Surat ini dinamakan pula dengan <i>Bani Israil</i> artinya <i>keturunan Israil</i> berhubung dengan permulaan surat ini, yakni pada ayat kedua sampai dengan ayat kedelapan dan kemudian dekat akhir surat yakni pada ayat 101 sampai dengan ayat 104, Allah menyebutkan tentang Bani Israil yang setelah menjadi bangsa yang kuat lagi besar lalu menjadi bangsa yang terhina karena menyimpang dari ajaran Allah s.w.t. Dihubungkannya kisah Israa' dengan riwayat <i>Bani Israil</i> pada surat ini, memberikan peringatan bahwa umat Islam akan mengalami keruntuhan, sebagaimana halnya Bani Israil, apabila mereka juga meninggalkan ajaran-ajaran agamanya.